The Entertainment Files

Featuring Movies, Music, Sports, Television, and Lifestyle Articles

Andai Aku Menjadi

tinggalkan komentar »

parishiltonNAMANYA Sydney. Usianya baru 12 tahun. Seperti abege pada umumnya, ia mulai rajin bercermin. Ia juga mulai pintar berdandan. Sydney ingin meniru gaya idolanya, yang sering dilihatnya melalui media.

Kebetulan, Sydney memang pernah bertemu langsung dengan bintang pujaannya itu. Bahkan sempat berfoto juga. Kisahnya, satu ketika, ia diajak ibunya berbelanja di sebuah butik. Tak ada hujan dan badai, butik itu tiba-tiba ditutup. Sydney juga ibunya jadi terjebak di dalamnya.

Selidik punya selidik, rupanya akan datang seorang pembeli istimewa. Sydney girang alang kepalang, sebab tamu terhormat itu tak lain adalah Paris Hilton yang dikaguminya. Tentu saja ia tak melewatkan begitu saja kesempatan langka itu. Ia mengumpulkan keberanian untuk mendekati Paris, sekadar meminta tanda tangan atau berfoto.

Beruntung, kata Sydney, semua yang diinginkannya kesampaian. “Aku malah sempat berfoto dua kali, soalnya hasil foto yang pertama jelek. Paris juga tidak keberatan mengulang sesi foto,” katanya. “Selain lebih cantik dibanding yang aku lihat di majalah, ternyata ia juga baik hati.”

Peristiwa itu membuat Sydney makin jatuh hati pada Paris Hilton. Ia tak akan pernah melupakan momen tersebut. Tak lupa, ia juga mengabarkan  kenangan manis itu kepada siapapun.  “Saya juga dikirimi fotonya,” kata Sherry Young, sang nenek, yang menulis artikel berjudul Addiction to Celebrities Simply isn’t Healthy.

Sherry menegaskan kegandrungan pada selebriti bukan monopoli Sydney, tapi dilakukan oleh banyak kalangan. Penyebabnya, kata Charlotte De Backer, juga sangat beragam. Pada tesis doktoralnya, psikolog dari Universitas Leicester itu menyebutkan, para selebriti itu adalah role model pada jaman kebudayaan populer.

Pada posisi itu, para selebriti menjadi acuan banyak orang, khususnya para penggemarnya, dalam segala soal. Sebagai role model, mereka menjadi contoh, menjadi teladan. Para selebriti telah menjadi cermin yang harus ditiru. Banyak orang lantas ingin menjadi seperti mereka, seperti selebriti idolanya.

Dalam batas tertentu, fenomena sosial itu tak jadi masalah. Tapi, jika sudah kelewat batas, bisa saja menjadi musibah. “Khususnya bagi anak-anak remaja, efeknya bisa sangat mengerikan,” kata Drew Pinsky dan S. Mark Young, dalam buku mereka yang bertajuk The Mirror Effect: How Celebrity Narcissim Is Seducing America.

Simpulan Pinsky bukan tanpa dasar. Bertahun-tahun ia pernah bekerjasama dengan sejumlah selebriti kondang. Pinsky menemukan fakta, ada banyak selebriti yang punya masalah atau trauma pada masa kecilnya. Persoalan itu lalu mendorong perilaku narsistis serta perilaku asosial lainnya. Bayangkan jika mereka kemudian menjadi idola.

“Kita harus bersepakat, bahwa kegandrungan berlebihan pada seseorang adalah musibah,“ kata Pinsky. “Apalagi orang yang kita idolakan itu nyata-nyata punya problem sosial dan psikologis yang ekstrem. Atau mereka-mereka yang jelas-jelas sangat individualis dan tidak peduli pada persoalan di sekitar dirinya,” ujarnya.

Orang boleh berkilah, mengagumi selebriti itu sekadar kegiatan atau kegemaran sambil lalu. Mengidolakan figur publik itu sekadar hiburan. “Jadi, masalahnya kita harus mempertanyakan kembali motivasi masing-masing. Mengapa kita tergoda untuk mengikuti persoalan-persoalan dan rajin mengamati keganjilan-keganjilan mereka.”

Jika sekadar tahu, ujar Pinsky, boleh-boleh saja. “Tapi, jika teramat peduli pada urusan pribadi mereka atau terlalu rutin memantau apapun kegiatan mereka, itu sangat tidak sehat,” katanya. “Kita seolah-olah merasa hidup baik-baik bahkan gembira dan terhibur tatkala mengetahui kelainan-kelainan personal para selebriti itu.”

Sederhana kata, siapapun harus mulai paham, bahwa yang tampak oleh mata telanjang belum tentu seperti aslinya. Penampilan luar para selebriti itu, belum tentu sepadan dengan penampilan sisi dalamnya. Apa yang tampak seolah-olah nyata, boleh jadi sekadar kamuflase yang bertopeng.

Tetapi, harus diyakini juga, tidak semua selebriti bermuka dua. Tidak semua pesohor itu bersikap lain bibir lain di hati. Ada banyak di antara mereka yang punya ciri satu kata dan perbuatan. Banyak juga di antara mereka yang punya bentuk luar yang indah dilihat, serta punya bentuk sisi dalam yang elok dipandang.

Maka, menarik juga untuk mengingat-ingat wanti-wanti Elbert Hubbard. “Agaknya bijak untuk menjalani hidup yang tidak terlampau serius,” kata filosof itu. Semua hal harus dilakukan secara wajar atau pada porsinya. Terlampau serius juga akan menimbulkan ketegangan dan kontraksi.

Jadi, bila Anda juga punya kesempatan seperti dialami Sydney, mungkin juga tak elok untuk disia-siakan. Yang berbahaya, kata Pinsky, adalah berandai-andai untuk menjadi orang lain. Anda terangsang untuk meniru idola Anda bulat-bulat.  (Foto hubpages.com)

Written by theone

Juni 15, 2009 at 09:04

Senja Kala Olahragawan

tinggalkan komentar »

ericcantona

DAHULU mereka menjadi pusaran histeria massa. Seiring waktu, tepuk sorak bergemuruh mulai meninggalkan mereka. Beberapa olahragawan besar itu ada yang menemukan kembali popularitasnya. Siapa mendekam di penjara?

Eric Cantona misalnya, pada masanya adalah bintang besar sepakbola. Orang Prancis ini merupakan salah satu legenda hidup Manchester United. Itu cerita lama, sebab sekarang  Cantona tengah berjuang mendapatkan popularitas di jalur hiburan. Demi keinginan itu, bulan lalu ia sibuk mempromosikan film barunya yang berjudul Looking For Eric.

Seperti Cantona, pada mulanya Vinnie Jones juga pesepakbola. Ia tercatat sebagai mantan pemain nasional Wales juga Wimbledon. Sejak meninggalkan lapangan hijau,  saat ini namanya lebih dikenal sebagai pelakon layar perak. Film debutnya adalah karya sutradara Guy Richie, yang bertajuk Lock, Stock and Two Smoking Barrels.

Martina Navratilova juga jadi penghibur. Juara sembilan kali turnamen tenis Wimbledon ini memang tak seserius Cantona atau Jones. Tapi, minimal, ia pernah menjadi salah satu kontestan pada program acara I’m A Celebrity Get Me Out of Here. “Saya peserta yang cukup kompetitif,” Martina menegaskan.

Petenis kakap lainnya, seperti John McEnroe, Jimmy Connors dan Boris Becker juga sudah lama menggantung raketnya. Cuma, mereka masih tetap setia dengan keterampilan dan reputasinya di masa lalu. Ketiganya mengisi hari tua masing-masing dengan menjadi komentator pada sejumlah pertandingan.

Lain lagi dengan cerita Ivan Lendl. Mantan petenis ini lebih sering menghabiskan waktunya di lapangan golf. Kadang-kadang ia main golf sendiri. Tapi, katanya, ia lebih sering menjadi caddy bagi dua anak gadisnya. Kebetulan kedua putrinya itu sangat berbakat mengayunkan stik golf.

“Golf menjadi tempat untuk melampiaskan semangat kompetisi saya. Sampai sekarang, saya memang selalu menyukai persaingan,” kata Lendl. “Dengan bermain golf saya punya kesibukan yang sama seperti ketika masih menjadi petenis profesional,” ujarnya, seperti dikutip The Sunday Times.

Hidup memang harus terus berjalan. Dan, perjalanan kehidupan itu mestinya senantiasa berwarna. Norman Whiteside misalnya, tak ingin terjerembab dalam duka berkepanjangan, meskipun karir sepakbolanya harus tamat di usia muda sejak dibekap cedera parah. Alih-alih bermuram durja, mantan pemain Manchester United dan Everton ini memantapkan diri sebagai ahli perawatan kaki sekaligus pembicara tenar.

Mick Channon juga punya romantika kehidupan sangat berwarna. Mantan striker Southampton dan Manchester City ini, dahulu dikenal sebagai penyerang haus gol. Ketika karir sepakbolanya mulai redup, Channon berputar haluan menekuni pacuan kuda. Ia kini disebut-sebut sebagai pelatih altet berkuda berkualitas wahid.

Masa tua Francis Lee malah jadi lebih makmur. Mantan penyerang Manchester City dan Derby County ini berubah menjadi pengusaha sukses. Hebatnya, usaha yang ditekuninya tak berkaitan dengan dunia sepakbola. Lee adalah pemiliki sejumlah pabrik yang memproduksi kertas tisu yang biasa dijumpai di kamar-kamar toilet.

Dunia bisnis juga menjadi pilihan Sir Anthony Joseph O’Reilly, selepas meninggalkan arena rugby. Pria Irlandia ini adalah pemilik kerajaan bisnis Independent News and Media Group sejak 1973. Ia juga tercatat sebagai bos Heinz Company, pabrikan makanan.

Tapi, tak semua olahragawan tenar bisa makmur seperti Lee atau O’Reilly. Masa tua Lester Piggott misalnya, bahkan sangat memprihatinkan. Padahal ia sangat masyhur sebagai jockey berkuda terbesar yang dimiliki Inggris. Piggott menyabet sembilan kali gelar Epsom Derby, kejuaran berkuda paling mewah dan prestisius.

Ironisnya, Piggott harus menghabiskan waktunya di balik jeruji besi. Jika tak keliru, pria berjuluk The Long Fellow ini dinyatakan bersalah karena telah menggelapkan laporan pajak. Untungnya, selepas dipenjara pada 1990, sepuluh hari kemudian ia kembali memperlihatkan tajinya dengan menyabet gelar Breeder’s Cup Mile.

Hidup dibui juga dialami mantan pemain cricket Inggris, Chris Lewis. Pada Desember 2008 lalu, ia ditangkap di Bandara Gatwick karena terbukti menyelundupkan lebih dari tiga kilogram kokain dari Saint Lucia di Kepulauan Karibia. Buntutnya ia harus berurusan dengan pihak berwajib.

Mei lalu, majelis hakim yang menangani perkara ini sudah mengetokkan palu. Lewis dinyatakan bersalah secara hukum. Sebagai ganjarannya, bersama pebasket Chad Kirnon ia harus mendekam di hotel prodeo selama 13 tahun. “Lewis, caught Customs, bowled Revenue, 13 years,” tulis majalah Times.

Sukses dan popularitas memang cuma seumur jagung. Perlahan-lahan, tepuk sorak bergemuruh itu akan berhenti pada waktunya. Begitulah, pesan tersirat mantan gelandang serang Chelsea, Gavin Peacock. “Menjalani hidup dengan benar  nilainya memang tidak terkira,” katanya.

Foto: lucypenn.wordpress.com

Written by theone

Juni 12, 2009 at 14:17

Tergoda Anak Tetangga

tinggalkan komentar »

david-banda-and-madonnaMAKSUD hati punya momongan, apa daya terganjal aturan. Tapi, siapa suruh mengangkat anak dari seberang? Tak menarikkah bocah-bocah asal negeri sendiri?

Peristiwa itu dialami sendiri oleh Madonna, ketika gagal mengadopsi gadis tiga tahun asal Malawi bernama Mercy. Peraturan menyebutkan, barangsiapa hendak mengangkat anak dari salah satu negara di Afrika itu, yang bersangkutan harus pernah tinggal di Malawi minimal 18 bulan.

Untuk sementara waktu, tertundalah keinginan pemilik album Material Girl itu. Ia harus mengikhlaskan usahanya berbilang bulan dan merelakan biaya berbilang dollar. Madonna belum bisa menambah daftar anggota keluarganya. Tapi, dikabarkan, ia akan terus berusaha mewujudkan rencananya.

Jika berkenan mengubah selera, niat Madonna sebenarnya lebih gampang direalisasikan. Misalnnya, ikuti saja keputusan dan cara-cara yang ditempuh oleh Sheryl Crow, Tom Cruise, Nicole Kidman, Rosie O’Donnell juga Calista Flockhart. Para pesohor itu tak perlu jauh-jauh menuju negeri orang, mereka cukup mengadopsi bocah Amerika sendiri.

Cuma, Madonna tampaknya sehaluan dengan Angelina Jolie, Mia Farrow, Julie Andrews dan Meg Ryan. Para selebriti ini lebih kepincut pada bayi-bayi asing, alih-alih pada anak-anak negeri sendiri. Merekalah yang ikut menyumbang pada pertumbuhan jumlah adopsi internasional yang meningkat tiga kali sejak tahun 1992.

Fakta statistik itu boleh dibilang sangat ironis, sebab bertolak belakang dengan prinsip permintaan dan penawaran. Seperti dilansir Dave Thomas Foundation, saat ini sedikitnya tercatat 129 ribu anak-anak Amerika yang menunggu diadopsi. Tahun lalu, 79 ribu anak-anak sudah disetujui diadopsi, tapi cuma 51 orang yang mulus prosesnya. Sisanya, belum jelas rimbanya.

“Para calon orangtua yang mencari anak angkat ke luar negeri itu berpikir, ribuan anak-anak calon adopsi di dalam negeri kondisinya tidak memuaskan,” kata Rita Soronen. Belum lagi soal biaya yang dianggap lebih mahal, serta waktu yang bertele-tele. “Saya kira, ini salah pengertian saja,” ujar Direktur Eksekutif Dave Thomas Foundation itu.

Berdasarkan catatan majalah Adoptive Families, perkiraan biaya untuk mengadopsi anak-anak asal China berkisar antara 20 sampai 25 ribu dollar. Sementara anak-anak asal Guatemala sekitar 25 hingga 30 ribu dollar. Mengadopsi anak-anak Rusia biayanya antara 30 sampai 40 ribu dollar.

Bandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk mengadopsi anak-anak Amerika. Seperti disebutkan oleh Lembaga Adopsi Nasional (NCA), biayanya sekitar delapan sampai 40 ribu dollar. Harga rata-ratanya bisa 15 sampai 25 ribu dollar. Jadi, jauh lebih murah.

Selain itu prosesnya pun tak kalah cepat. Menurut data American Adoptions, adopsi anak dari luar negeri butuh waktu 10 sampai 12 bulan, sedangkan mengangkat anak dari dalam negeri perlu tempo satu hingga 28 bulan. Sesuai peraturan yang baru, proses adopsi anak-anak asal China dan Guatemala bahkan bisa jauh lebih lama.

Bagaimana dengan bibit, bebet, dan bobotnya? “Ada anggapan kebanyakan anak-anak yang boleh diadopsi di Amerika berlatar belakang keluarga tidak baik. Anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Kondisi mereka sama seperti anak-anak pada umumnya,” kata Soronen.

Masih banyak faktor lain yang menyebabkan munculnya keengganan calon orangtua potensial Amerika mengangkat anak dari negeri sendiri. Salah satunya adalah kekhawatiran munculnya gugatan balik dari orangtua biologis di kemudian hari.

“Kekhawatiran itu, saya kira, bisa dipahami,” kata Linda Alexandre, pekerja sosial di sebuah lembaga adopsi anak-anak domestik. “Tapi, hal itu sebenarnya tidak akan terjadi jika proses adopsinya dilakukan melalui agen profesional.”

Lagipula mengadopsi anak dari negeri tetangga pun, belum tentu bebas dari campur tangan orangtua kandung bocah-bocah bersangkutan. Madonna sendiri pernah mengalaminya, ketika ia mengangkat David Banda asal Malawi sebagai anak angkatnya. Ketika itu, ayah David sempat protes meski akhirnya gagal.

Jadi, mengapa mesti mengadopsi anak tetangga jika di negeri sendiri sangat banyak bocah-bocah yang butuh pertolongan. Agaknya cuma Madonna dan rekan-rekannya yang punya jawaban jujur.

Foto: http://mgwriters.wordpress.com

Written by theone

Juni 5, 2009 at 12:56

Harga Tubuh Selebriti

with one comment

mariah_carey2_400BAYANGKAN khidmat-khidmat bentuk kaki Mariah Carey atau Heidi Klum. Imajinasikan pula dalam-dalam struktur ragawi sisi depan dan belakang Jennifer Lopez. Jika sudah, taksir saja, berapa harga terpantas untuk properti mereka?

Tak masalah jika perkiraan Anda meleset. Harga tubuh selebriti memang sulit dicerna akal. Sepasang kaki Mariah Carey misalnya, dibandrol satu miliar dollar. Kalau Heidi Klum? Kaki kanannya seharga 1,2 juta dollar. Sebab ada bekas luka segores, kaki kirinya satu juta dollar saja.

Harga bodi Jennifer Lopez, diduga, juga sebesar satu miliar dollar. Tapi, menurut juru bicaranya, itu bualan belaka. Informasi yang lebih akurat adalah, bagian depan Jennifer 200 juta dollar. Sisi belakangnya, harganya dua kali lipat, 400 juta dollar.

Catat, tiga pesohor Hollywood itu bukan pengecer bagian-bagian tubuh ke hadirat publik. Jadi, mohon, jangan berpikir macam-macam. Angka-angka itu adalah besaran jaminan perusahaan asuransi atas aset mereka yang dianggap paling berharga.

Bagi kalangan selebriti khususnya di Amerika, mengasuransikan anggota tubuh ternyata punya riwayat sangat panjang, dimulai tahun 1920-an. Ben Turpin tercatat sebagai pemulanya. Aktor film bisu ini mengasuransikan bola matanya yang bisa menyilang seharga 20 ribu dollar.

Jimmy Durante, salah satu penyanyi, aktor, juga komedian, mengikuti Turpin. Ia menjaminkan suaranya 50 ribu dollar. Penyanyi wanita, Marlene Dietrich, juga mengasuransikan suaranya, nilainya satu juta dollar. Harga yang sama juga diminta oleh Betty Grable, pedansa dan penyanyi, ketika menjaminkan kaki jenjangnya.

Tahun-tahun berikutnya, terutama pada 1960-an, asuransi tubuh selebriti makin berkembang. Bagian tubuh yang dijaminkan juga macam-macam. Angie Dickinson, masih meniru keputusan Marlene. Peraih Golden Globe Awards yang juga kekasih Frank Sinantra ini mengasuransikan kakinya.

Tapi, Carol Doda punya pilihan lain. Pedansa topless ini minta tanggungan sebesar 1,5 juta dollar untuk sepasang buah dadanya. Bagian tubuh yang sama juga diasuransikan oleh Dolly Parton. Harganya memang lebih murah, hanya 600 ribu dollar.

Para selebriti menjelaskan, pertimbangan mengasuransikan tubuh atau bagian tubuhnya bukanlah sekadar mencari sensasi. Menurut mereka, bagian tubuh yang dijaminkan itu adalah sarana vital untuk mendapatkan popularitas juga kemakmuran. Maka, pantas bila mesin uang itu mendapat perlindungan maksimal.

Misalnya, saking berharganya, pianis Liberace atau gitaris Keith Richards mengasuransikan jari-jarinya. Sebetulnya hal ini juga bisa dilakukan oleh para jurnalis. Hanya melalui jari-jemari mereka bisa memproduksi dan menyebarluaskan informasi pada khalayak. Masalahnya, berapa harga jari wartawan?

Di kalangan selebriti sendiri, soal harga jaminan memang sangat subjektif. Masing-masing tentu saja punya pertimbangan sendiri-sendiri. “Tiap individu punya cara berbeda mengapresiasi tubuhnya,” tulis Frank Matys, mengutip keterangan agen asuransi, seperti dimuat dalam tulisannya yang berjudul Celebrity Leg Insurance Big News.

Sederhana kata, rambut boleh sama hitamnya, tapi harga bisa tak sama. Kaki boleh sama indahnya, tapi bandrolnnya lain-lain. Payudara boleh sama menggodanya, tarifnya tetao saja tak serupa. Suara juga begitu. Bruce Springsteen misalnya, mematok 7 juta dollar. Rod Stewart, lain lagi.

Bagian tubuh yang lain juga begitu. Gigi indah milik aktris muda America Ferrera misalnya, seharga 10 juta dollar. Tapi, gigi komedian dan penulis lagu, Ken Dodd, cuma 7 juta dollar. Kebetulan keduanya beda jenis kelamin, beda profesi, beda juga masa tenarnya.

Jika bagian tubuh yang sama saja bervariasi nilainya, apalagi anggota tubuh yang nyata-nyata berbeda. Jadi, jangan terkejut jika Merv Hughes mengasuransikan kumis tebalnya sebesar 370 ribu dollar. Atau bulu dada Tom Jon yang dibandrol sebesar 7 juta dollar.

Asuransi yang dipilih oleh David Lee Roth, bagi sebagian orang, mungkin dianggap aneh. Bahkan mungkin terkesan sangat nyeleneh. Bayangkan saja, ia minta pertanggungan sebesar satu juta dollar untuk spermanya. Adakah perusahaan asuransi yang bersedia menanggungnya?

Tidak usah diragukan. Apapun yang dijaminkan selebriti dunia hiburan, sepertinya selalu diaminkan pihak asuransi. Beda dengan para olahragawan, misalnya. “Pebasket macam Kobe Bryant atau lainnya, mestinya juga punya banyak asuransi anggota tubuh. Tapi, nyatanya tidak,” kata Larry Getlen dari bankrate.com.

Menurut Larry, di dunia olahraga, posisi tim tampaknya sangat dominan. Dengan begitu, segala hal tentang atlet termasuk soal asuransi ditentukan sepenuhnya oleh manajemen tim. Alhasil, asuransi yang dimiliki pemain klub basket misalnya, berlaku secara kolektif dan bukan perorangan.

Posisi para olahragawan, khususnya yang tergabung dalam sebuah tim, memang sangat rentan. Kiprah mereka pada sebuah tim, dibatasi oleh masa berlakunya kontrak kerja. Sudah itu, selama dikontrakpun, tidak ada yang bisa menjamin seorang atlet pasti bisa menjadi bintang. Mereka rawan “diperjualbelikan”.

Kondisi inilah, Larry menduga, yang menjadi salah satu alasan mengapa asuransi anggota tubuh olahragawan agak kurang laku di pasaran. Beda ceritanya jika atlet yang bersangkutan punya reputasi tambahan sebagai selebriti, seperti yang dimiliki oleh David Beckham.

Aslinya, Beckham memang pesepakbola. Tapi, bukan pemain bola biasa. Ia adalah atlet selebriti. Ia sohor di banyak arena. Tak cuma di lapangan hijau, tapi juga di jagat hiburan macam pentas model, busana, iklan, dan lainnya. Lantaran statusnya itu, kakinya sebagai pesepakbola bisa juga diasuransikan sebesar 70 juta dollar.

Nikmat serupa juga diterima oleh Tiger Woods. Ia memang pegolf, tapi bukan pegolf biasa. Tiger muncul di mana-mana, terutama berkat perannya sebagai bintang iklan produk-produk berkelas. Tiap tahun, puluhan ribu dollar masuk ke kantongnya. Seperti halnya David Beckham, Tiger Woods juga tak sulit untuk mendapatkan jaminan asuransi.

Cuma, lain dulu lain sekarang. “Saat ini, apapun yang ada di bawah matahari dan bulan bisa diasuransikan,” tulis situs get-great-legs.com. Jangan lagi anggota tubuh atau suara, “Bencana alam bahkan korban penculikan alien pun dijamin asuransi.”

Jadi, bukan cuma Mariah Carey atau Heidi Klum yang berhak mengasuransikan kakinya. Juga, bukan hanya Jennifer Lopez yang boleh minta perlindungan atas aset sisi depan dan belakangnya. Anda juga tak dilarang. Soal bandrolnya, tentu terserah Anda.

(Source Image: sexygirlscelebrity.blogspot.com)

Written by theone

Mei 29, 2009 at 13:07

Mari Kita Bergosip

tinggalkan komentar »

gossip-photo-main_full1SIAPA suka bergosip, terus lanjutkan. Yang tak suka bergunjing, mulailah berpikir ulang. Memangnya mengapa? Para peneliti menyimpulkan, bergosip ternyata banyak gunanya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gosip diartikan sebagai kegiatan membicarakan orang lain. Kegiatan ini umumnya dilakukan dengan santai, informal, dan menghibur. Topik pembicaraan lazimnya bernuansa penilaian moral terhadap orang yang digosipkan.

Sebenarnya, secara naluriah, setiap kita pasti tertarik untuk mengetahui orang lain. Hanya dengan kemampuan dan keterampilan memahami orang lain, seseorang akan makin sukses bersosialisasi. Bedanya, ada yang memilih cara terang-terangan, ada juga yang memilih berbisik-bisik.

Mungkin ada yang penasaran, mengapa informasi seseorang terlebih yang bersifat rahasia, selalu menarik perhatian? Psikolog Universitas Liverpool, Robin Dunbar, dalam bukunya yang berjudul Grooming, Gossip, and the Evolution of Language menjelaskan, “Gosip adalah sebuah mekanisme untuk mempererat ikatan sosial.”

Pendapat senada dikemukan oleh Sarah R. Wert dari Universitas Colorado dan Peter Salovey dari Universitas Yale. Keduanya menegaskan,”Gosip adalah salah satu alat terbaik yang kita miliki untuk membandingkan diri kita dengan orang lain secara sosial.”

Hebatnya, peran dan fungsi gosip itu selalu seiring sejalan dengan perkembangan peradaban umat manusia. Berkat gosip, manusia jaman purba mampu beradaptasi dan melanjutkan kehidupannya. Berkat gosip juga, manusia jaman modern jadi tersambung dengan yang lainnya.

Para ahli menjelaskan, manusia jaman purba menggantungkan sepenuh hidupnya pada alam. Siapa punya keterampilan mengenali jenis-jenis makanan dan minuman, mengenali kelemahan dan kekuatan individu lain, termasuk mengenali calon pasangan hidup, maka dialah yang berhasil mempertahankan hidupnya.

Setiap manusia pada jaman purba juga mesti punya keterampilan “bersosialisasi”, sebab mereka harus hidup bersama dalam kelompok-kelompok kecil. Siapa mampu mengenali dengan jeli sesama anggota kelompoknya, siapa mampu mengambil hati sesama anggota kelompoknya, siapa mampu “menyenangkan“ rekan-rekannya, dialah yang jadi juara.

Kebalikannya, siapa tak bisa dipercaya, siapa suka menipu, siapa suka berkhianat dan sejenisnya, maka dialah yang akan tersingkir. Simpul kata, manusia jaman purba harus memiliki intelegensi sosial untuk memantapkan posisi dirinya, sekaligus membaca karakter dan perilaku koleganya di dalam kelompoknya. Inti dari intelegensi sosial itu tak lain adalah kemampuan dan keterampilan mengumpulkan informasi tentang orang lain.

Harus jujur diakui, keberhasilan manusia di jaman modern pun sangat tergantung pada keberhasilannya menganalisis sikap dan perilaku orang lain. Maka, mengumpulkan informasi tentang orang lain, mempelajari informasi ihwal orang lain, saling bertukar informasi tentang orang lain adalah salah alat untuk meraih kesuksesan.gossip_girl_13

Proses pertukaran informasi atau bergosip itu hanya akan dilakukan dengan orang lain yang terpercaya. Para pelaku gosip tidak akan membocorkan informasi “rahasia” itu kepada siapapun sehingga menimbulkan akibat negatif pada para pelakunya. Jadi, barangsiapa yang tidak terlibat gosip, dialah orang yang tak bisa dipercaya. Dia akan tersingkir dari kelompoknya.

Memang benar, pada praktiknya, proses pertukaran informasi itu kerap kali dibumbui oleh kepentingan-kepentingan pribadi. Bergosip seringkali dijadikan strategi untuk meningkatkan reputasi dan keuntungan pribadi, dan pada saat bersamaan menjatuhkan harga diri orang lain. Bergosip seringkali sangat subjektif, ketimbang mendahulukan fakta objektif.

Jika itu yang terjadi, fungsi gosip secara sosial memang jauh panggang dari api. Sebab, banyak bukti menceritakan, jika dilakukan secara benar dan terkontrol, bergunjing sebenarnya banyak faedahnya. Begitulah kesimpulan Roy F. Baumeister dari Universitas Florida, setelah bersama koleganya mengkaji fenomena gosip di tengah-tengah masyarakat.

Menurut Baumeister, fungsi dan peran gosip sangat beragam. Pertama, gosip merupakan salah satu cara untuk mempelajari aturan atau norma tak tertulis yang berlaku pada sebuah kelompok sosial dan kebudayaan tertentu. Kedua, gosip merupakan cara sangat efektif untuk mengingatkan anggota kelompok ihwal pentingnya norma dan nilai yang berlaku. Ketiga, gosip juga merupakan alat untuk menghindari terjadi perilaku menyimpang, apalagi melewati batas.

Kesimpulan Baumeister itu, antara lain, selaras dengan hasil penelitian langsung terhadap tiga kelompok berbeda, yaknik para peternak sapi di California, pembudidaya lobster dan tim dayung mahasiswa, keduanya di Maine. Pada setiap kelompok ini, gosip berfungsi untuk mengembalikan anggota kelompok agar mematuhi norma-norma kelompoknya.

Individu-individu yang gagal memenuhi harapan kelompoknya masing-masing, menjadi sasaran tembak atau objek gosip dan akan diasingkan. Tekanan sosial kelompok itu, kemudian mendorong individu-individu itu untuk berusaha berubah menjadi lebih baik sehingga bisa diterima kembali menjadi anggota kelompok.

Menurut antropolog Jerome Barkow dari Universitas Dalhousie, objek gosip itu bermacam-macam. Tetapi, katanya, biasanya kita lebih tertarik pada informasi tentang lawan, teman, keluarga, mitra, dan figur-figur penting dan berpengaruh. “Informasi yang dicari umumnya yang berpotensi mempengaruhi ’status’ atau ’peran’ sosial kita,“ ujar Barkow.

Sederhana kata, manusia cenderung akan tertarik pada informasi individu lain yang secara sosial sangat penting dan berarti. Lalu, mengapa informasi celebriti juga sangat diminati? Apakah mereka punya peran sosial yang besar, khususnya bagi individu-individu yang gemar bertukar informasi selebriti?

“Evolusi peradaban manusia tidak membekali kita untuk mengenali atau membedakan dengan tegas siapa saja di antara anggota kelompok kita yang paling potensial mempengaruhi kita secara sosial,” kata Barkow. “Itu sebabnya, figur-figur dari industri hiburan yang berkunjung setiap saat dianggap familiar dan punya peran sosial sangat penting.”

Tesis Barkow itu diperkuat kenyataan, bahwa pada jaman serba modern yang nyaris individualis, para selebriti seperti menggantikan peran para sahabat sejati di dunia nyata. Mengumpulkan dan saling bertukar informasi tentang para selebriti seolah-olah telah menjadi ukuran modernitas seseorang.

Penelitian yang dilakukan Charlotte J. S. De Backer, psikolog dari Universitas Leicester menemukan bukti bahwa para selebriti seperti disetarakan dengan role model pada jaman purba, dahulu kala. “Para remaja khususnya, cenderung mengikuti cara berpakaian, model berhubungan, dan sejenisnya dari para selebriti atau kebudayaan populer lainnya.”

Siapa saja boleh tidak setuju dengan pendapat Charlotte. Cuma, fakta tak bisa terbantahkan: informasi selebriti memang terus membanjir. Suka tak suka, siapa saja berpotensi disambangi mereka. Jadi, siapa suka bergosip selebriti, terus lanjutkan. Yang tidak suka, mulailah berpikir ulang.

Hanya saja, esensi gosip bukan cerita karangan. Bergosip juga bukan membuka aib dan mempermalukan orang lain. Bergosip yang pada hakikatnya adalah bertukar informasi, harus membuat pelakunya lebih cerdas, terampil, maju dan berkembang. “Gosip adalah sarana terbaik untuk membandingkan diri kita dengan orang lain,” kata Sarah R. Wert dari Universitas Colorado.

Foto: ehow.com dan pgteenspace.wordpress.com

Written by theone

April 15, 2009 at 08:52

Tabir Candu Asmara

with 3 comments

love-monsta1CINTA bukan perkara hati, rupanya. Asmara itu murni urusan otak, ternyata. Cinta bukan soal perasaan, tapi masalah logika. Sebab cinta (tidak) buta, maka ia bisa dipahami melalui proses berpikir, reaksi-reaksi hormonal, dan pengaruh genetika.

Maka, agaknya keliru bila ekspresi cinta kerap disimbolkan dengan sebentuk hati. Tapi, biarkan sajalah dulu kesalahkaprahan itu, usah buru-buru pula mengubah kebiasaan itu. Simpulan para peneliti cinta itu sekadar mengingatkan, bahwa magma asmara itu di kepala adanya.

Bianca Acevedo, misalnya, pada valentine baru lewat masih bertukar hati dengan kekasihnya. Padahal ahli syaraf asal New York ini, adalah salah satu peneliti yang terlibat aktif menyibak rahasia asmara. Bersama koleganya, Bianca menyimpulkan pengaruh otak ditemukan dalam setiap jenis hubungan cinta.

“Memang, cinta itu merupakan proses biologis. Kami sudah mengindentifikasi beberapa faktor penting yang terlibat di dalamnya,” kata Larry Young dari The Yerkes National Primate Research Center di Emory University, Atlanta. Di tempat ini, ia mempelajari bagaimana cinta bersemi di antara para binatang yang punya struktur biologis “mirip” manusia.

Temuannya menjadi pembanding untuk mendalami masalah serupa pada manusia. Hasilnya? Dalam otak manusia terdapat empat area kecil yang disebut kumparan cinta: ventral tegmental area (VTA), nucleus accumbens, ventral pallidum dan raphe nucleus. Bianca, bersama sejawatnya, mendalami sirkuit cinta itu di Albert Einstein College of Medicine.

VTA itu ibarat mesin sensor, bagian dari reward system dalam struktur otak. Area ini akan bereaksi dahsyat dan rasanya melenakan, misalnya, seperti ketika seseorang yang sedang jatuh cinta mendapati gambar pujaan hatinya. Reaksi sama juga terjadi pada VTA orang-orang yang tetap romantis meski sudah puluhan tahun berasyik masyuk.

“VTA merupakan sel-sel yang memproduksi dopamine untuk didistribusikan ke bagian-bagian lain di otak,” kata Helen Fisher, peneliti dan Profesor Rutgers University. “Ketika Anda berusaha atau mendapatkan hadiah terbesar dalam hidup seperti kekasih, system reward itu akan bekerja.”

Jadi, cinta itu adalah proses biologis yang melibatkan zat-zat kimia tubuh. Proses kerja cinta itu mirip kecanduan obat. “Kecanduan itu sangat menggairahkan tatkala cinta berjalan selayaknya. Sebaliknya, ketagihan itu menjadi sangat mengerikan ketika asmara terkoyak-koyak. Orang bisa membunuh atau mati hanya karena cinta,” kata Helen.

Cinta memang selalu diharapkan penuh warna dan berbunga-bunga. Biduk cinta senantiasa dikhayalkan tak menerjang love3badai dan gelombang. Cuma, asmara kerap diserimpung onak dan duri. Asmara sering kandas tak pantas. Dunia, ternyata, tak selalu bisa menjadi milik berdua.

Pada pasangan patah hati atau putus cinta, para peneliti menemukan aktivitas tambahan di nucleus accumbens, area di otak yang terkait dengan kondisi kecanduan atau ketagihan itu. “Mirip sekali dengan kecanduan pada obat-obatan,” kata Lucy Brown, ahli syaraf di Albert Einstein College of Medicine.

Sementara itu, pada pasangan yang sudah berkawin selama 20 tahun, selalu bergandengan tangan, dan bermanja-ria layaknya pasangan baru, para peneliti mendapatkan kegiatan lain di sirkuit cinta mereka. Selain VTA, area ventral pallidum dan raphe nucleus otak pasangan romantis ini juga sangat aktif.

“Ventral pallidum terhubung dengan hormon pereda ketegangan atau stress, sedangkan raphe nucleus mengeluarkan serotonin yang memberi efek tenang pada seseorang,” kata Helen. “Kedua area itu merangsang munculnya sejenis perasaan tak bersalah. Ini adalah level kegembiraan paling rendah,” Lucy menambahkan.

Temuan terbaru ini mungkin akan mengubah paradigma ihwal cinta. Tapi, para peneliti asmara menegaskan, maksud mereka sekadar memahami bekerjanya proses percintaan. Selebihnya, tentu saja, bisa diaplikasikan untuk keperluan-keperluan praktis.

Tujuan besar penelitian Larry misalnya, adalah untuk memahami dan mencari solusi terbaik untuk memecahkan persoalan-persoalan interaksi sosial seperti autis dan lainnya. Adapun studi Helen dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana seseorang tertarik pada yang lainnya, khususnya dengan merebaknya situs interaksi sosial di dunia maya.

Tapi, menurut Profesor Psikologi University of Hawaii, Elaine Hatfield, temuan penelitian sirkuit cinta masih terbuka untuk diperdebatkan. Maka ia menyarankan, temuan ini masih harus disandingkan dengan temuan-temuan penelitian dari studi psikologi tradisional.

Kritik Elaine tak keliru. Tapi, peneliti otak juga punya argumentasi. Misalnya, inginnya mereka meneliti kumparan cinta pada otak manusia secara langsung. Namun, apa daya, keinginan itu mustahil dilakukan. Walhasil, meski mereka menggunakan binatang sebagai obyek studi, hasilnya tetap dapat dipertanggungjawabkan.

Misalnya, mengapa Larry meneliti vole –sejenis tikus— tentu bukan tanpa alasan. Katanya, hanya sekitar lima persen mamalia yang menjalin “cinta” di antara mereka dalam hidupnya. “Tapi vole melakukannya,” kata Larry. Hubungan itu dirangsang oleh hormon-hormon tertentu yang juga sama dengan hormon yang dimiliki manusia.

Pada vole betina, hormon perangsang percintaan itu disebut oxytocin. Sedangkan pada vole jantan disebut vasopressin. Hormon itu diproduksi oleh vole pada saat kecil dan oleh manusia pada waktu kanak-kanak. Ketika oxytocin atau vasopressin dihambat atau dihentikan, vole tidak menjalin ‘hubungan’ dengan lawan jenisnya.

Ringkasnya, kata Larry, secara teoritis gairah cinta itu dapat terus dipelihara. Jika tidak melanggar etika atau kode etik tertentu, menggunakan obat perangsang bisa menjadi alternatif. Tapi, secara alamiah, berangkulan, berpelukan, saling bercumbu juga dapat menggelorakan gelegak asmara.

“Istri saya mengatakan, bunga juga bisa membangkitkan asmara. Sebagai ilmuwan, saya sulit mencernanya bagaimana mungkin bunga mampu menstimuli sirkuit cinta,” kata Larry. “Tapi, saya membuktikan sendiri. Bunga memang punya pengaruh besar. Begitu sebaliknya.”

Sumber: AP (naskah); lovingyou.com dan iebaruu.files.wordpress.com (foto)

Written by theone

Februari 25, 2009 at 13:50

Ilmu Bahasa Tubuh

tinggalkan komentar »

peacock2 JANGAN marah jika Anda disebut sombong,  hanya karena Anda tak acuh pada lawan bicara. Usah tersinggung bila Anda disebut congkak, cuma karena Anda abai pada orang yang mengajak bicara. Bahasa tubuh Anda bisa menceritakan siapa Anda sesungguhnya: beradab atau tak berbudi.

Jangan berang juga, jika orang-orang tak beradab ternyata berasal dari golongan berpunya. Sementara orang-orang santun dan tahu aturan menjadi ciri kelompok manusia kebanyakan. Jadi, orang kaya biasanya sombong. Orang biasa, yah biasa saja.

Jangan langsung terpengaruh, sebab ini cuma temuan penelitian tim psikologi dari University of California yang dilansir di situs livescience.com. Mereka menyimpulkan, kelompok orang dari kelas sosial ekonomi mapan cenderung angkuh dan tidak menghargai orang lain.

Psikolog Michael Kraus dan Dacher Keltner membuat kesimpulan itu berdasarkan riset terhadap 100 mahasiswa, yang dibagi menjadi 50 pasangan. Satu mahasiswa berlatar keluarga kaya dipasangkan dengan mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Di antara mereka tak saling kenal.

Tiap pasang mahasiswa beda kasta itu, kemudian diwawancarai atau persisnya diajak berbincang-bincang ihwal topik tertentu selama 60 detik. Tiap mahasiswa mendapat jumlah pertanyaan dan waktu yang sama dari pewawancara.

Bukan isi pembicaraan atau jawaban sang mahasiswa yang jadi catatan utama. Yang direkam dan dicermati dengan seksama adalah sikap atau perilaku mereka selama berlangsungnya percakapan. Persisnya, bagaimana bahasa tubuh mereka masing-masing. Mau tahu hasilnya?

Mahasiswa kaya memperhatikan benda-benda di sekitar tempat wawancara rata-rata selama dua detik, sementara mahasiswa miskin tidak melakukannya. Mahasiswa kaya agak sibuk pada penampilannya, sedangkan mahasiswa miskin tidak. Mahasiswa miskin menganggukkan kepala, tersenyum, dan mengekspresikan mimik muka perhatian, rata-rata satu sampai dua detik lebih banyak dibanding mahasiswa kaya.

“Kita memang berbicara dalam satuan detik, tapi jangan lupa wawancaranya hanya satu menit,” kata Kraus. “Coba Anda kalkulasikan jika kejadiannya dalam hitungan hari.” Apalagi berbilang bulan, terlebih tahun.

Menurut Kraus, temuan penelitiannya mengingatkan pada adanya kecenderungan “kebinatangan” pada diri manusia. Ia mengamsalkan, mahasiswa kaya itu seperti burung merak yang selalu memamerkan bulu-bulunya. Bahasa tubuh mahasiswa tajir seolah berkata, “I’m fit” atau “I don’t need you”.

“Di dunia binatang, perebutan status selalu memunculkan konflik,” kata Kraus. Manusia juga begitu. Dengan bahasa tubuh tertentu misalnya, kelompok manusia kaya atau berpengaruh hendak mengatakan, “Anda beda kelas dengan saya. Jadi, jangan coba-coba berurusan dengan saya.”

Sementara itu, mengingat keterbatasannya, manusia tidak kaya agak sulit mengalahkan kelompok borjuis. “Sumber daya kelompok miskin memang terbatas. Itu sebabnya, secara psikologis mereka cenderung sangat tergantung pada lawan kelasnya,” Kraus menggeneralisir hasil penelitiannya.

Written by theone

Februari 13, 2009 at 23:21

Wanita Paling Seksi

tinggalkan komentar »

400px-gisele_bundchen23OTAKMU seksi, itu terbukti, dari caramu, memikirkan aku. Matamu seksi, itu terbukti, dari caramu, menatap aku…..Hidungmu seksi, itu terbukti, dari caramu, cium pipiku. Bibirmu seksi, itu terbukti, dari caramu, sebut namaku…..

Begitulah, antara lain, fantasi Ahmad Dhani ketika melukiskan Makhluk Tuhan Paling Seksi. Lewat lagu yang dipopulerkan Mulan Jameela itu, Dhani menambahkan, “Hatimu seksi itu terbukti, dari caramu memeluk hatiku…..Jantungmu seksi itu terbukti, dari caramu cemburu padaku.”

Anda boleh setuju. Tak dilarang juga beda pendapat. Colin Stewart misalnya, dalam tulisannya yang bertajuk A Thing of Beauty, mengkhayalkan keseksian atau kecantikan wanita dengan menggabungkan pesona sejumlah pesohor. Maka, jadilah sesosok figur khayal nan menggairahkan.

Makhluk imajiner itu berbibir serupa dengan milik Angelina Jolie. Ia berhidung seperti kepunyaan Nicole Kidman. Wanita itu – maaf — juga berbuah dada layaknya properti Pamela Anderson. Sederhana kata, ia punya kesempurnaan sejak bawah sampai atas. Ia seksi sejak ujung kaki sampi rambut.

Stewart tak asal comot ketika merancangbangun identitas keseksian wanita itu. Ia menyandarkan imajinasinya pada hasil survei International Society of Aesthetic Plastic Surgery. Organisasi ini menghimpun keterangan para dokter ihwal selebriti yang sering jadi rujukan pasiennya ketika melakukan operasi plastik.

Soal bentuk kaki contohnya, Tina Turner menduduki rangking atas, dibayang-bayangi oleh Cameron Diaz dan Sharon Stone. Ia menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin mereparasi kakinya. Sementara itu, dalam urusan perut, Gisele Bundchen tiada lawan. Perut model asal Brasil ini terseksi sedunia.

Walhasil, wanita fiktif versi Stewart juga berkaki jenjang seperti penyangga tubuh milik Tina Turner. Sedikit lebih ke atas, ia juga berperut tipis seperti Gisele Bundchen. Kalau bentuk –maaf– bokong? Jennifer Lopez memang jagonya. Bodi belakangnya memang dikagumi banyak orang, wanita apalagi pria.

“Kalau Anda perhatikan di bagian belakangnya, di situ pasti Anda akan menemukan Jennifer Lopez,” kata Stewart, menyebut aktris-penyanyi berdarah Latin berbodi amboi itu. “Menurut keterangan para dokter, bagian belakang Jennifer sering dicontoh oleh banyak pasien,” ia menambahkan.

Kita kembali ke depan, naik setingkat ke atas perut. Urusan –maaf—buah dada, sebenarnya terpecah dua. “Banyak pasian bedah plastik yang tergoda memiliki payudara besar dan berisi seperti Pamela Anderson,” kata Stewart. “Tapi, banyak juga yang tidak ingin bentuknya sama persis.”

Beda dengan bentuk bibir, kepunyaan Angelina Jolie tak ditawar sedikitpun. Hebatnya, bentuk mata Jolie juga diidam-idamkan banyak wanita. “Tapi, kami tak ingin terlalu banyak berpatokan pada satu selebriti,” ujar Stewart. Maka, pilihan bentuk mata jatuh pada bintang lain.

Salma Hayek rupanya menjadi pilihan pertama. Kebetulan, sesuai hasil jajak pendapat, matanya selalu disebut-disebut sebagai yang terindah. Mata seksi urutan selanjutnya, dimiliki oleh Catherine Zeta-Jones, Demi Moore, Michele Pfeiffer, Sophia Loren, Elizabeth Taylor, Catherine Deneuve dan Greta Garbo.

Jika Salma Hayek menyumbangkan keindahan mata, Nicole Kidman menyumbangkan kebangiran hidung. Aktris asal Australia ini benar-benar tak punya saingan. “Hidung Nicole diimpikan semua wanita di seluruh dunia,” begitu keterangan pihak International Society of Aesthetic Plastic Surgery.

Makhluk paling seksi ini, selanjutnya disempurkan dengan keindahan rambut milik Jennifer Aniston, yang ditempel ketat oleh rambut Julia Robert yang menempati urutan kedua sebagai rambut terseksi. Pada predikat yang sama, keduanya nyaris dijegal oleh Gisele Bundchen.

Untungnya, model asal Brasil itu sudah lebih dulu menyumbang perut    rampingnya. Jika tidak, bisa-bisa ia kelewat banyak mengubah penampilan wanita. Harap maklum, selain berperut seksi dan berambut indah, Gisele juga hampir saja mengalahkan Pamela Anderson. Anda pasti tahu maksudnya, bukan?

Jika belum puas, makhluk khayal itu masih bisa diperbaiki lagi dengan dagu kepunyaan Sonia Braga, Charlize Theron, atau Julia Roberts. Kemudian, dandani juga dengan dahi Madonna, Nicole Kidman, Elizabeth Taylor atau Oprah Winfrey. Cuma, dalam soal bentuk dahi, pasien umumnya tidak jujur.

“Mereka sebetulnya sangat peduli pada kerut-kerut di dahi,” kata Stewart. “Tapi, anehnya, tidak juga memilih, keriput dahi siapa yang paling seksi,” ujarnya, tersenyum. Ia memang sekadar berkelakar, sebab keriput bukan –atau belum—menjadi kriteria kecantikan.

Mungkin garis-garis di dahi itu belum mampu menghadirkan suasana seperti dilukiskan Ahmad Dhani dalam Makhluk Tuhan Paling Seksi. “Cuma kamu yang bisa membuatku terus menjerit, ouww…ouww…ouww.”

Written by theone

Februari 4, 2009 at 14:46

Gaza Music School

tinggalkan komentar »

In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down…


ITULAH cuplikan bait lagu bertajuk We Will Not Go Down gubahan Michael Heart. Ia tak di Jalur Gaza, ketika sang angkara murka membabibuta, sewaktu sang nafsu durjana merajalela. Tapi, dari Los Angeles, Michael fasih benar melukiskan kecamuk perang di Palestina itu.

Michael tak mereka-reka, apalagi berdusta. Lewat media, seluruh mata dunia tahu, bahwa gempuran mesin pembunuh Israel boleh dikata nyaris tak berbalas. Melalui media, seluruh mata dunia mafhum, ratusan korban berserak-serak di segala tempat.

Kilahnya, cuma petinggi dan aktivis Hamas yang hendak dibedil, tapi faktanya rakyat sipil juga disapu bersih. Alasanya, hanya gedung-gedung tentara yang akan dibom, tapi nyatanya bangunan apapun dibumihanguskan. Benar seperti kata Michael, “You (can) burn up our mosque, and our homes and our schools“.

Wahai para penggila perang, selamat karena Anda bisa meluluhlantakkan markas Pasukan Penjaga Keamanan di Kota Gaza, 27 Desember lalu. Sebab belum klimaks, esok harinya bom Anda menyalak lagi. Dua kali. Ada lima bangunan di sekitar tempat itu yang ikut rata dengan tanah, termasuk sekolah musik bocah-bocah.

Like other buildings in the neighborhood, the Gaza Music School was shattered; window frames and doors were blown out, and holes were punched in the walls. The force of the blast imploded the four ouds, just like it had the compound,” tulis Nadia Hijab dari Institute for Palestine Studies dalam tulisannya di Daily Star.

Anda dengarkan, wahai para pemuas birahi. Sekolah musik itu umurnya baru enam bulan. Muridnya 31 orang: 19 wanita, 12 pria. Usianya antara 7-11 tahun. Alat musiknya cuma tujuh biji: gitar, piano dan oud (sejenis alat musik gesek/petik). Murid wanita lebih suka latihan gitar atau piano. Murid pria sering berebut oud.

Bangunan sekolah musik itu, yang ternyata hanya sewaan, sudah jadi bubur. Tujuh buah alat musik itu sudah jadi abu. Buku-buku pelajaran musik sudah jadi asap. Bocah-bocah dan guru-gurunya? Subhanallah. Saat bom menghujam, mereka belum lagi sampai. Alhamdulillah.

Anda mesti tahu juga, wahai para budak nafsu. Gaza Music School itu dibangun susah payah, tapi tanpa pamrih. Niatnya sekadar memberikan “makanan” batin bagi anak-anak Palestina yang sudah lama ditelikung beban. Mereka dahaga pada kata-kata damai, aman dan sejenisnya.

Gaza Music School itu didirikan untuk merespon keinginan sekitar 11.600 anak-anak anggota Qattan Center for the Child. Lembaga nirlaba ini, hari-harinya memang mengadakan banyak aktivitas aktra kurikuler termasuk membangun perpustakaan khusus anak-anak dengan koleksi buku mencapai 103.000 buah.

Sekarang, segalanya tinggal cerita. Tak ada lagi keriuhan bocah-bocah polos bersenandung. Tak ada lagi petikan dawai-dawai gitar. Tak terdengar lagi denting piano dari jari-jemari lentik nan menggemaskan. Sunyi, senyap, menggelap.

Bersyukur, lima guru sekolah musik itu berbesar hati. Malah, dua guru asal Rusia yang menikah dengan pria Palestina pun tak akan meninggalkan Gaza. Mereka mantap mengakui sepenuh hati Gaza adalah tanah tumpah darahnya, seperti diyakini oleh sekitar 1,5 juta jiwa warga lainnya.

Guru-guru itu bertekad membangun kembali Gaza Music School. Mereka meyakinkan para orang tua, terutama anak muridnya bahwa kelak mereka bisa main musik lagi. Sekolah itu akan dibangun lagi.

Sejauh ini sudah banyak respon positif. Misalnya, Edward Said National Conservatory of Music di Ramallah siap menyumbang. “Beberapa teman dari Amsterdam dan London juga akan membantu,” kata Ziad Khalaf, Direktur Qattan Foundation. Michael Heart, melalui We Will Not Go Down, secara tak langsung juga akan menjadi bagian dari pembangunan kembali Gaza Music School.

I have decided to make the song available free of charge. I would like to request that after downloading the song, you kindly donate directly to a charity or an organization dedicated to alleviate the suffering of the Palestinian people,” begitu kata Michael dalam michaelheart.com.

Palestina memang sedang berduka. Tapi, sudah lebih dari 60 tahun mereka tak pernah mengenal kata menyerah. Mereka pantang berkalang tanah, demi keyakinan, kebenaran dan hak-hak asasi manusia. Termasuk mendentingkan tuts-tuts piano. We (Palestine) Will Not Go Down :

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Written by theone

Januari 18, 2009 at 21:32

Ditulis dalam Musik

Ditandai dengan , , , , , ,

Kebajikan Sesame Street

with 2 comments

PALESTINA membara lagi. Mesin-mesin pembunuh Israel menyalak lagi. Ratusan orang meregang nyawa lagi. Air mata dan darah menggenang lagi. Dan, bocah-bocah tak berdosa itu kehilangan harapan lagi.

Begitulah perang, selalu menjemput korban. Sialnya, bukan para maniak dan kaum biadab yang jadi mangsa. Tapi lihat, rakyat sipil yang tak berpolitik yang kerap tunggang-langgang. Coba simak, anak-anak kecil yang lucu yang sering menjerit histeris.

Meski bedil tak lagi dikokang dan mesiu tak lagi dimuntahkan, derita anak-anak itu tak otomatis reda. Ada banyak perkara lain yang jauh lebih kritis ketimbang luka tembak, misalnya. Anak-anak itu ditelikung trauma, dibayang-bayangi ketakutan. Mereka menyimpan amarah, dendam dan kesumat yang akan membuncah satu ketika.

Tak disebutkan, berapa banyak bocah-bocah yang jiwanya terganggu itu. Tapi, situs berita Menassat.com melaporkan, jumlah anak-anak Palestina terutama di sekitar Tepi Barat dan Jalur Gaza yang menderita Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) selalu bertambah, tiap hari.

Abdel-Hakim Abu-Jamous tahu betul kondisi itu. Direktur Media Kementerian Pendidikan Pelastina itu menjelaskan, memulihkan kondisi kejiwaan itu tidak gampang. “Tapi kita harus melakukan sesuatu, meyakinkan mereka bahwa masih ada harapan di masa depan.”

Semangat anak-anak Palestina itu, Daoud Kuttab menimpali, harus dibangkitkan lagi. Kepercayaan diri mereka harus disadarkan lagi. “Kebanggaan mereka sebagai generasi muda Palestina harus dihidupkan lagi,” kata Direktur Pen Media, organisasi media pendidikan di Palestina, itu.

Menurut Daoud, harus ada jalan keluar untuk mengembalikan identitas diri para muda Palestina. “Entah program televisi, pertunjukan-pertunjukan panggung atau bentuk-bentuk lainnya sebagai katalisator untuk mengubah disorientasi kejiwaan itu,” katanya.

Salah satu caranya adalah membuat program televisi Sesame Street atau Shara’a Simsim dalam bahasa Arab, versi Palestina. Mirip acara Jalan Sesama yang menayang di salah satu layar televisi swasta Indonesia. Pada proyek yang didanai lembaga donor dari Amerika ini, Daoud bertindak sebagai Eksekutif Produser.

November tahun lalu, sejumlah anak, pejabat pemerintah, para pendidik, dan pekerja televisi menghadiri peluncuran Shara’a Simsim yang menampilkan karakter utama, Kareem dan Haneen. Menurut rencana, tayangan percobaan Shara’a Simsim mulai disiarkan di televisi Palestina pada Februari mendatang.

“Tontonan ini antara lain mengajarkan pada anak-anak tentang bagaimana menghadapi ketakutan, arti penting persahabatan, serta pesan-pesan moral lainnya,” kata Abu-Jamous. Jika siaran percobaan ini berhasil, serial Shara’a Simsim akan diproduksi lagi. Mulai April 2010 misalnya, akan disiapkan 52 episode.

“Konten-konten pada musim baru nanti, disesuaikan dengan masukan dari produser, Kementerian Pendidikan, United Nations Relief and Works Agency (UNRWA), lembaga swadaya masyarakat, para pendidikan, dan pihak lain yang terkait,” kata Cairo Arafat, penasihat konten Shara’a Simsim seperti dikutip Menassat.com.

ARAFAT menambahkan, pada prinsipnya Sesame Street versi Palestina ini bermuatan pendidikan dasar untuk menumbuhkan kebanggaan mereka baik sebagai pribadi maupun kultural. Ujungnya adalah menghilangkan nafsu amarah, dendam dan sejenisnya. “Tayangan ini difokuskan pada anak-anak, terutama yang berusia 3-8 tahun,” kata Arafat.

Sebelum Shara’a Simsim, pada 1997 sebetulnya Israel dan Palestina pernah memproduksi Sesame Street. Ketika itu tokoh utamanya adalah boneka Daffy (mewakili Israel) dan boneka Haneen (mewakili Palestina). Program ini sudah dibuat 70 episode dalam bahasa Arab dan Hebrew, masing-masing untuk setengah jam waktu siar.

Sayang, seperti dalam kehidupan nyata, tokoh Daffy dan Haneen juga ikut diseret-seret ke dalam konflik politik. Sesame Street diganti menjadi Sesame Stories, bahkan mulai 2002 produksinya dihentikan. Maksud baik Sesame Street jauh panggang dari api.

“Kami melihat keinginan untuk menanamkan nilai-nilai persahabatan di antara ke dua belah pihak makin jauh dari kenyataan,” kata Charlotte Cole. “Buktinya bisa kita lihat sekarang,” ujar Wakil President International Research for Sesame Workshops, seperti dikutip New York Times, saat menjelaskan penghentian Sesame Street produksi bersama Israel-Palestina itu.

Bagaimana dengan Sesame Street versi aslinya? Pionir tontonan anak-anak yang menggabungkan unsur pendidikan dan hiburan ini, sejak tayang November 1969 mendulang banyak sukses. Serial dengan pelakon utama para boneka karya Jim Henson ini, sudah ditayangkan di lebih dari 120 negara, telah dibuat menjadi 25 versi lokal macam Shara’a Simsim, dan menyabet sekitar 109 Emmy Awards.

Sampai sekarang, setelah berusia 40 tahun, Sesame Street tak pernah berpaling dari misinya: mendidik dengan cara menghibur. Keinginan untuk menyelamatkan anak-anak Palestina misalnya, terus digelorakan.

“Kami tetap berkomitmen untuk membantu mereka,” kata Robert Knezevic, Asisten Wakil President Sesame Workshops. “Kami ingin membekali mereka pengetahuan dan keterampilan dasar untuk menjalani kehidupan dengan gembira di dunia yang mereka tinggali.”

Sebab perang tak berkesudahan, kata Abu-Jamous, anak-anak dan generasi muda Palestina memang jadi korban. “Sumber ilmu pengetahuan untuk mereka sangat terbatas,” katanya. “Padahal tak ada investasi yang lebih baik selain memberi pendidikan dan pengetahuan pada anak-anak kita.”

Sayang, tak semua berfikir seperti Abu-Jamous. Belum lagi Shara’a Simsim ditayangkan, akhir Desember tahun lalu Palestina kembali panas. Asap hitam membumbung tinggi, gedung-gedung luluh lantak, air mata membanjir, darah merah melata, dan anak-anak kembali menanggung derita. Mengapa maniak perang itu tak pernah belajar, misalnya dari Sesame Street? (View, Februari 2009)

Written by theone

Januari 13, 2009 at 02:51

Ditulis dalam Televisi

Ditandai dengan , , , ,