The Entertainment Files

Featuring Movies, Music, Sports, Television, and Lifestyle Articles

Senja Kala Olahragawan

tinggalkan komentar »

ericcantona

DAHULU mereka menjadi pusaran histeria massa. Seiring waktu, tepuk sorak bergemuruh mulai meninggalkan mereka. Beberapa olahragawan besar itu ada yang menemukan kembali popularitasnya. Siapa mendekam di penjara?

Eric Cantona misalnya, pada masanya adalah bintang besar sepakbola. Orang Prancis ini merupakan salah satu legenda hidup Manchester United. Itu cerita lama, sebab sekarang  Cantona tengah berjuang mendapatkan popularitas di jalur hiburan. Demi keinginan itu, bulan lalu ia sibuk mempromosikan film barunya yang berjudul Looking For Eric.

Seperti Cantona, pada mulanya Vinnie Jones juga pesepakbola. Ia tercatat sebagai mantan pemain nasional Wales juga Wimbledon. Sejak meninggalkan lapangan hijau,  saat ini namanya lebih dikenal sebagai pelakon layar perak. Film debutnya adalah karya sutradara Guy Richie, yang bertajuk Lock, Stock and Two Smoking Barrels.

Martina Navratilova juga jadi penghibur. Juara sembilan kali turnamen tenis Wimbledon ini memang tak seserius Cantona atau Jones. Tapi, minimal, ia pernah menjadi salah satu kontestan pada program acara I’m A Celebrity Get Me Out of Here. “Saya peserta yang cukup kompetitif,” Martina menegaskan.

Petenis kakap lainnya, seperti John McEnroe, Jimmy Connors dan Boris Becker juga sudah lama menggantung raketnya. Cuma, mereka masih tetap setia dengan keterampilan dan reputasinya di masa lalu. Ketiganya mengisi hari tua masing-masing dengan menjadi komentator pada sejumlah pertandingan.

Lain lagi dengan cerita Ivan Lendl. Mantan petenis ini lebih sering menghabiskan waktunya di lapangan golf. Kadang-kadang ia main golf sendiri. Tapi, katanya, ia lebih sering menjadi caddy bagi dua anak gadisnya. Kebetulan kedua putrinya itu sangat berbakat mengayunkan stik golf.

“Golf menjadi tempat untuk melampiaskan semangat kompetisi saya. Sampai sekarang, saya memang selalu menyukai persaingan,” kata Lendl. “Dengan bermain golf saya punya kesibukan yang sama seperti ketika masih menjadi petenis profesional,” ujarnya, seperti dikutip The Sunday Times.

Hidup memang harus terus berjalan. Dan, perjalanan kehidupan itu mestinya senantiasa berwarna. Norman Whiteside misalnya, tak ingin terjerembab dalam duka berkepanjangan, meskipun karir sepakbolanya harus tamat di usia muda sejak dibekap cedera parah. Alih-alih bermuram durja, mantan pemain Manchester United dan Everton ini memantapkan diri sebagai ahli perawatan kaki sekaligus pembicara tenar.

Mick Channon juga punya romantika kehidupan sangat berwarna. Mantan striker Southampton dan Manchester City ini, dahulu dikenal sebagai penyerang haus gol. Ketika karir sepakbolanya mulai redup, Channon berputar haluan menekuni pacuan kuda. Ia kini disebut-sebut sebagai pelatih altet berkuda berkualitas wahid.

Masa tua Francis Lee malah jadi lebih makmur. Mantan penyerang Manchester City dan Derby County ini berubah menjadi pengusaha sukses. Hebatnya, usaha yang ditekuninya tak berkaitan dengan dunia sepakbola. Lee adalah pemiliki sejumlah pabrik yang memproduksi kertas tisu yang biasa dijumpai di kamar-kamar toilet.

Dunia bisnis juga menjadi pilihan Sir Anthony Joseph O’Reilly, selepas meninggalkan arena rugby. Pria Irlandia ini adalah pemilik kerajaan bisnis Independent News and Media Group sejak 1973. Ia juga tercatat sebagai bos Heinz Company, pabrikan makanan.

Tapi, tak semua olahragawan tenar bisa makmur seperti Lee atau O’Reilly. Masa tua Lester Piggott misalnya, bahkan sangat memprihatinkan. Padahal ia sangat masyhur sebagai jockey berkuda terbesar yang dimiliki Inggris. Piggott menyabet sembilan kali gelar Epsom Derby, kejuaran berkuda paling mewah dan prestisius.

Ironisnya, Piggott harus menghabiskan waktunya di balik jeruji besi. Jika tak keliru, pria berjuluk The Long Fellow ini dinyatakan bersalah karena telah menggelapkan laporan pajak. Untungnya, selepas dipenjara pada 1990, sepuluh hari kemudian ia kembali memperlihatkan tajinya dengan menyabet gelar Breeder’s Cup Mile.

Hidup dibui juga dialami mantan pemain cricket Inggris, Chris Lewis. Pada Desember 2008 lalu, ia ditangkap di Bandara Gatwick karena terbukti menyelundupkan lebih dari tiga kilogram kokain dari Saint Lucia di Kepulauan Karibia. Buntutnya ia harus berurusan dengan pihak berwajib.

Mei lalu, majelis hakim yang menangani perkara ini sudah mengetokkan palu. Lewis dinyatakan bersalah secara hukum. Sebagai ganjarannya, bersama pebasket Chad Kirnon ia harus mendekam di hotel prodeo selama 13 tahun. “Lewis, caught Customs, bowled Revenue, 13 years,” tulis majalah Times.

Sukses dan popularitas memang cuma seumur jagung. Perlahan-lahan, tepuk sorak bergemuruh itu akan berhenti pada waktunya. Begitulah, pesan tersirat mantan gelandang serang Chelsea, Gavin Peacock. “Menjalani hidup dengan benar  nilainya memang tidak terkira,” katanya.

Foto: lucypenn.wordpress.com

Written by theone

Juni 12, 2009 pada 14:17

Tinggalkan Balasan