The Entertainment Files

Featuring Movies, Music, Sports, Television, and Lifestyle Articles

Andai Aku Menjadi

tinggalkan komentar »

parishiltonNAMANYA Sydney. Usianya baru 12 tahun. Seperti abege pada umumnya, ia mulai rajin bercermin. Ia juga mulai pintar berdandan. Sydney ingin meniru gaya idolanya, yang sering dilihatnya melalui media.

Kebetulan, Sydney memang pernah bertemu langsung dengan bintang pujaannya itu. Bahkan sempat berfoto juga. Kisahnya, satu ketika, ia diajak ibunya berbelanja di sebuah butik. Tak ada hujan dan badai, butik itu tiba-tiba ditutup. Sydney juga ibunya jadi terjebak di dalamnya.

Selidik punya selidik, rupanya akan datang seorang pembeli istimewa. Sydney girang alang kepalang, sebab tamu terhormat itu tak lain adalah Paris Hilton yang dikaguminya. Tentu saja ia tak melewatkan begitu saja kesempatan langka itu. Ia mengumpulkan keberanian untuk mendekati Paris, sekadar meminta tanda tangan atau berfoto.

Beruntung, kata Sydney, semua yang diinginkannya kesampaian. “Aku malah sempat berfoto dua kali, soalnya hasil foto yang pertama jelek. Paris juga tidak keberatan mengulang sesi foto,” katanya. “Selain lebih cantik dibanding yang aku lihat di majalah, ternyata ia juga baik hati.”

Peristiwa itu membuat Sydney makin jatuh hati pada Paris Hilton. Ia tak akan pernah melupakan momen tersebut. Tak lupa, ia juga mengabarkan  kenangan manis itu kepada siapapun.  “Saya juga dikirimi fotonya,” kata Sherry Young, sang nenek, yang menulis artikel berjudul Addiction to Celebrities Simply isn’t Healthy.

Sherry menegaskan kegandrungan pada selebriti bukan monopoli Sydney, tapi dilakukan oleh banyak kalangan. Penyebabnya, kata Charlotte De Backer, juga sangat beragam. Pada tesis doktoralnya, psikolog dari Universitas Leicester itu menyebutkan, para selebriti itu adalah role model pada jaman kebudayaan populer.

Pada posisi itu, para selebriti menjadi acuan banyak orang, khususnya para penggemarnya, dalam segala soal. Sebagai role model, mereka menjadi contoh, menjadi teladan. Para selebriti telah menjadi cermin yang harus ditiru. Banyak orang lantas ingin menjadi seperti mereka, seperti selebriti idolanya.

Dalam batas tertentu, fenomena sosial itu tak jadi masalah. Tapi, jika sudah kelewat batas, bisa saja menjadi musibah. “Khususnya bagi anak-anak remaja, efeknya bisa sangat mengerikan,” kata Drew Pinsky dan S. Mark Young, dalam buku mereka yang bertajuk The Mirror Effect: How Celebrity Narcissim Is Seducing America.

Simpulan Pinsky bukan tanpa dasar. Bertahun-tahun ia pernah bekerjasama dengan sejumlah selebriti kondang. Pinsky menemukan fakta, ada banyak selebriti yang punya masalah atau trauma pada masa kecilnya. Persoalan itu lalu mendorong perilaku narsistis serta perilaku asosial lainnya. Bayangkan jika mereka kemudian menjadi idola.

“Kita harus bersepakat, bahwa kegandrungan berlebihan pada seseorang adalah musibah,“ kata Pinsky. “Apalagi orang yang kita idolakan itu nyata-nyata punya problem sosial dan psikologis yang ekstrem. Atau mereka-mereka yang jelas-jelas sangat individualis dan tidak peduli pada persoalan di sekitar dirinya,” ujarnya.

Orang boleh berkilah, mengagumi selebriti itu sekadar kegiatan atau kegemaran sambil lalu. Mengidolakan figur publik itu sekadar hiburan. “Jadi, masalahnya kita harus mempertanyakan kembali motivasi masing-masing. Mengapa kita tergoda untuk mengikuti persoalan-persoalan dan rajin mengamati keganjilan-keganjilan mereka.”

Jika sekadar tahu, ujar Pinsky, boleh-boleh saja. “Tapi, jika teramat peduli pada urusan pribadi mereka atau terlalu rutin memantau apapun kegiatan mereka, itu sangat tidak sehat,” katanya. “Kita seolah-olah merasa hidup baik-baik bahkan gembira dan terhibur tatkala mengetahui kelainan-kelainan personal para selebriti itu.”

Sederhana kata, siapapun harus mulai paham, bahwa yang tampak oleh mata telanjang belum tentu seperti aslinya. Penampilan luar para selebriti itu, belum tentu sepadan dengan penampilan sisi dalamnya. Apa yang tampak seolah-olah nyata, boleh jadi sekadar kamuflase yang bertopeng.

Tetapi, harus diyakini juga, tidak semua selebriti bermuka dua. Tidak semua pesohor itu bersikap lain bibir lain di hati. Ada banyak di antara mereka yang punya ciri satu kata dan perbuatan. Banyak juga di antara mereka yang punya bentuk luar yang indah dilihat, serta punya bentuk sisi dalam yang elok dipandang.

Maka, menarik juga untuk mengingat-ingat wanti-wanti Elbert Hubbard. “Agaknya bijak untuk menjalani hidup yang tidak terlampau serius,” kata filosof itu. Semua hal harus dilakukan secara wajar atau pada porsinya. Terlampau serius juga akan menimbulkan ketegangan dan kontraksi.

Jadi, bila Anda juga punya kesempatan seperti dialami Sydney, mungkin juga tak elok untuk disia-siakan. Yang berbahaya, kata Pinsky, adalah berandai-andai untuk menjadi orang lain. Anda terangsang untuk meniru idola Anda bulat-bulat.  (Foto hubpages.com)

Written by theone

Juni 15, 2009 pada 09:04

Tinggalkan Balasan